Angka Kematian Ibu Melahirkan Masih Tinggi

  • Bagikan

IMG_20181217_183254

Padang – Angka kematian ibu melahirkan di Sumatera Barat (Sumbar) masih tinggi, berada di posisi 212 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012). Sementara se-Indonesia juga masih sangat tinggi, yaitu 359 per 100.000 kelahiran hidup.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga terlihat sangat jauh perbedaannya. Malaysia (29 per 100.000 kelahiran hidup), Filipina (120 per 100.000 kelahiran hidup), dan Singapura (6 per 100.000 kelahiran hidup) (WHO 2014).
“Sejak diberlakukannya sistem SJSN hasil capaian KB Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran di Rumah Sakit semakin mengalami penurunan setiap tahunnya, oleh karena itu maka diperlukan diadakan pertemuan Temu Kerja dalam Rangka Peningkatan Pencapaian KB Pasca Persalinan dan Pasca Keguguran di Rumah Sakit Tingkat Sumbar,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Sumbar, H. Syahruddin, di Hotel Pangeran Beach Padang, Kamis (13/12).
Disamping pengendalian angka kelahiran, penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak adalah merupakan satu kebijakan utama BKKBN.
Sementara pencapaian perkiraan permintaan masyarakat peserta KB baru 2017, menggambarkan bahwa capaian hasil program KKBPK di Sumbar telah dapat dilayani sebanyak 181.029 peserta KB baru atau 103, 96% dari KKP Sumbar sebesar 174.127.
Disamping itu berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017, angka Fertility Rate (TFR) 2,4 mengalami penurunan dari 2,6 SDKI 2017 secara nasional. Dan untuk Sumbar TFR pada SDKI 2017 sebesar 2,5 juga mengalami penurunan dari 2,8 pada SDKI 2012.
Sedangkan program kesehatan reproduksi dalam program kependudukan dan KB adalah kegiatan peningkatan kualitas kesehatan reproduksi yang didalamnya menyangkut peningkatan Kelangsungan Hidup Ibu, Bayi dan Anak (KHIBA), pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV dan AIDS, pencegahan Kanker Alat Reproduksi (KAR) dan Penanggulangan infertilitas.
Kesehatan Reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental dan kesejahteraan sosial secara utuh pada semua hal yang  berhubungan dengan sistem dan fungsi serta proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan. Oleh karena itu kesehatan reproduksi mempunyai implikasi bahwa setiap orang mampu memiliki kehidupan seksual yang memuaskan dan aman bagi dirinya dan mampu menurunkan serta memenuhi keinginannya tanpa ada hambatan apapun, kapan dan berapa sering untuk memiliki keturunan.
Program KB memiliki makna yang sangat strategis dan fundamental, dalam peningkatan kesehatan reproduksi dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan  dan Pembangunan (ICPD) di Kairo tahun 1994.
Hal penting dalam konferensi tersebut  adalah, disepakatinya perubahan paradigma dalam pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan fertilitas, menjadi pendekatan yang terfokus pada kesehatan reproduksi serta upaya pemenuhan hak-hak reproduksi.
Ia berharap, kegiatan ini dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta sampai akhir kegiatan, dan dapat memberikan manfaat positif dalam peningkatan pencapaian KB PPPK di Rumah Sakit kedepannya. Sehingga masyarakat Sumbar bisa terhindar dari masalah kesehatan reproduksi. (ridho)
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan