Opini  

Terimakasih Polisi Porwil XI Riau

Oleh: Almadi

(Wartawan Utama)

 

Terimakasih Polisi di Porwil Riau yang baik hati, kenapa saya mesti ucapkan terimakasih kepada aparat baju coklat. Tentu ada alasannya, sebab dengan kebaikan petugas keamanan saya merasa nyaman dan dihargai.

Tak salah, Polisi adalah sahabat masyarakat. Mereka murah senyum, mudah ditemui disetiap venue Porwil Riau. Saya bukan angkat telur, ini kenyataan di lapangan. Sesat di jalan atau buntu tempat yang dituju, langsung tanya ke mereka. Dengan senang hati menunjukan tempat yang dicari.

Satu kali, kejadian berurutan saya hadapi. Begitu hendak meliput cabor sepakbola saat Sumbar menghadapi Kepri di stadion Utama Riau, sempat putar otak sama siapa pergi ke sana. Naik GoCar berat diongkos, karena setiap liputan dari venue ke venue sangat jauh dari penginapan.

Saat kebingungan, datang rezeki, teman sekamar Dasman Boy, Dt Rajo Dihilia ditawari naik mobil ke stadion Utama Riau oleh komandan kemanan dari Polda Sumbar. Kebetulan dia hendak ke sana pula. Lalu kami berdialog sambil sarapan. Kami terasa dekat, merasa dihargai. Padahal dia komandan loh.

Sampai di stadion, saya ogah duduk di tribun, mungkin sudah kebiasaan saat meliput Liga di stadion H. Agus Salim, Padang. Lalu cari tempat nyaman pinggir lapangan.

Lagi asyik menikmati laga tim Sumbar berhadapan dengan Kepri, dari ujung lapangan muncul seorang petugas keamanan. Ketika saya menoleh ke arahnya, petugas itu menyuruh naik ke stadion.

Saya tetap bertahan dan berteriak,” Kami dari Sumbar.”

Polisi yang wajahnya mirip Hanny Tuheteru itu membiarkan saya duduk, dia berdiri agak jauh. Usai pertandingan saya hampiri petugas tadi.

Kemudian saya amati wajahnya, teringat penyanyi Mariani’s Band, Hanny Tuheteru yang terkenal di era 80an. Penyanyi asal Ambon itu terkenal dengan tembangnya “Aku Orang Tak Punya.”

“Kalau lihat wajah komandan jadi teringat penyanyi Hanny Tuheteru,” kata saya bercanda.

Petugas tadi bukan merasa terhina atau diledek, malahan dia senang dan menyebut penyanyi legenda 80-an tersebut sekampung denganya. Saya makin akrab saja.

Begitu hendak pulang ke hotel, menunggu jemputan pantia. Perut tak enak mau buang air. Saat menuju toilet polisi  yang mirip penyanyi legenda itu, menyuruh mengambil nasi kotak. Saya tertegun, ramah kali komandan ini.

“Ambilah, kan belum makan lagi,” katanya.

Saya tahu nasi kotak ini buat petugas kemanan, kalau diambil tentu petugas yang lain tak kebagian.” Ambil sajalah,” perintahnya berulang-ulang. Sedkit malu-malu kucing diambil jugalah, karena perut memang lapar.

Di cabang olahraga Bola Tangan ada juga polisi namanya Muhammad Gilang, anak mantan peraih emas tinju PON Sumsel, Amri Yusran. Pangkat Gilang Briptu, Dia bertugas di Reskrimsus Polda Sumbar.

Gilang ikut punya andil meraih medali emas Porwil, dia termasuk penjaga gawang utama. Meski baru sehari nikah, langsung bergabung dengan rekan-rekannya. Inilah tiga orang polisi kebanggaan masyarakat. Hidup Polri. (***)