Kontribusi nyata BI Sumbar melalui Pengembangan Klaster Hortikultura di Payakumbuh

  • Bagikan

bi

Payakumbuh – Kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sebagai salah satu program Pengembangan UMKM BI Sumbar di klaster hortikultura Payakumbuh.

Keikutsertaan Bank Indonesia dalam pengembangan klaster hortikultura di Payakumbuh ini merupakan bagian dari program pengembangan UMKM oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera  Barat  (BI Sumbar) yang telah dimulai sejak tahun 2015 dan direncanakan berjalan selama 3 tahun.

Program pengembangan klaster ini merupakan kerja sama antara BI Sumbar dengan sejumlah instansi terkait yang diharapkan mampu menciptakan peningkatan produksi hortikultura, perbaikan mekanisme pertanian dari pertanian konvensional menjadi pertanian modern, penguatan aspek kelembagaan petani melalui pendirian koperasi dan keterbukaan akses keuangan.

Dalam merancang dan melaksanakan program pengembangan klaster tersebut, BI Sumbar bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan Prov. Sumbar; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Prov. Sumbar; Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Prov. Sumbar; dan Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan dan Kehutanan Kota Payakumbuh.

Kepala Bank Indonesia Sumbar Puji Atmoko berharap dengan pola kerja sama ini diharapkan tercipta sinergi yang kuat antar instansi sehingga mampu memberikan hasil yang maksimal.

Program SLPHT ini diungkapkan Puji merupakan salah satu program terpadu mulai dari proses input, produksi, sampai dengan pemasaran yang diterapkan pada Kelompok Tani (Poktan) Bina Bersama dan Baliak Mayang di Kota Payakumbuh.

Program SLPHT ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman petani tentang teknologi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman hortikultura secara efektif dan efisien sehingga mampu menekan angka kehilangan hasil pada petani yang mencakup beberapa kegiatan yaitu pertemuan persiapan (kesiapan peserta, kontrak belajar dan pemaparan teknis budi daya sesuai SLPHT).

Lebih lanjut Puji mengatakan, pertemuan rutin selama 20 kali pertemuan (materi khusus, pengamatan dan kerja lapang), dan ditutup dengan kegiatan field day (temu lapang petani, diskusi dan presentasi terkait hasil SLPHT).

Ia juga mengungkapkan, selama kurang lebih 5 bulan pelaksanaan SLPHT ini, para petani diharapkan mampu mengimplementasikan budi daya tanaman hortikultura dengan lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

Selain itu, para petani diharapkan makin sadar akan perlunya penanganan dan pengendalian hama dan penyakit agar terhindar dari penurunan produksi tanaman. Untuk itu, dalam langkah penguatan, para petani akan dibekali dengan metode pengendalian serangan hama dan penyakit melalui demonstrasi plot (demplot) tanaman di lahan pertanian yang dilakukan selama periode September 2016 sampai dengan Februari 2017.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan