PADANG – Mimpi panjang itu akhirnya berlabuh manis. Septri, pria kelahiran 12 September 1985, resmi menyandang gelar doctor sebuah capaian yang ia rajut dari keringat arena hingga ketekunan riset.
Akademisi sekaligus praktisi olahraga Sumatera Barat itu menuntaskan Ujian Disertasi Program Studi S-3 Ilmu Keolahragaan Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Padang, Jumat (13/2/2026).
Di ruang sidang tertutup S3 Lantai 2 FIK UNP, Septri, S.S., M.Pd., mematri transformasi utuhnya, dari mantan atlet, pelatih, wasit, hingga kini doktor ilmu keolahragaan. Ia menapaki S-1 Ilmu Keolahragaan (2004) dan S-2 Manajemen Pendidikan Olahraga (2009) di kampus yang sama, sebelum melanjutkan doktoral sejak 2023. Benang merahnya jelas membangun sport science berbasis riset dan teknologi untuk pembinaan prestasi yang lebih terukur.
“Alhamdulillah, ini berkat dukungan sahabat, orang tua dan istri tercinta. Terima kasih atas doa dan dukungannya,” ujar Septri, suaranya bergetar menahan haru.
Disertasi berjudul “Pengembangan Bentuk Latihan Combined Training untuk Meningkatkan Daya Ledak Lengan, Daya Ledak Otot Tungkai dan Kelincahan Atlet Karate Junior” menjadi tawaran konkret bagi pembinaan usia dini. Model latihan terintegrasi yang ia kembangkan dirancang untuk mendongkrak performa secara sistematis fondasi penting bagi Sumbar jika ingin bersaing di level nasional hingga internasional.
Sidang berlangsung khidmat. Rektor UNP, Krismadinata, bertindak sebagai penyelia. Dekan FIK, Nurul Ihsan, memimpin sidang sebagai ketua. Ketua Prodi S3, Alnedral, bersama tim promotor dan penguji lintas kepakaran turut menguji kedalaman risetnya.
Septri bukan produk menara gading. Ia lahir dari kerasnya arena. Pernah menjadi atlet, pelatih, hingga wasit, kini ia dipercaya sebagai Sekretaris Pengprov Bola Tangan Sumbar dan Wakil Ketua KONI Sumbar periode 2025–2029. Amanah besar sudah di depan mata, Ketua Pelaksana Porprov XVI Sumbar 2026.
Pengalaman itu membentuknya sebagai figur yang paham denyut kompetisi sekaligus manajemen olahraga modern. Di ruang kuliah, ia mengampu Karate, Belajar Motorik, Manajemen Olahraga, Sport Fitness, dan Psikologi Olahraga mengawinkan teori dan praktik agar mahasiswa tak sekadar hafal konsep, tetapi siap mengelola pembinaan nyata.
Lima tahun terakhir, grafik produktivitas ilmiahnya menanjak. Ia mengembangkan model pembelajaran pencak silat berbasis multimedia, meneliti pengaruh medicine ball throw dan push-up terhadap daya ledak atlet karate, hingga merintis media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Mixed Reality (MR).
Karyanya menembus jurnal internasional seperti Retos (Q1), Journal of Physical Education and Sport (Q2), dan Annals of Applied Sport Science (Q3). Tema besarnya tegas: integrasi teknologi digital untuk mengerek performa bela diri.
Saat pandemi COVID-19 menghantam, ia tak berhenti. Septri menerapkan distance training berbasis aplikasi untuk atlet kriket PON Sumbar, aktif dalam program kebugaran lansia, terapi okupasi, pencegahan demensia, hingga peningkatan kompetensi pelatih karate berbasis sport science di Kabupaten Padang Pariaman.
Pengabdiannya mendapat pengakuan, Peserta Lemhannas RI (2020), Kader Utama dan Instruktur Utama MPN Pemuda Pancasila (2020), penghargaan Pembina Olahraga Prestasi dari Bupati Padang Pariaman (2019), hingga dipercaya sebagai Wasit AKF pada 2025-membentangkan kiprah ke level internasional.(almadi)
