PADANG-Langit siang itu tampak biasa. Tak ada tanda-tanda peristiwa luar biasa akan terjadi. Namun di halaman Masjid Mujahidin, Padang, Jumat 16 Januari 2026, sebuah kisah besar sedang dimulai-tanpa sorak, tanpa gemuruh, hanya dengan doa dan linangan air mata.
Usai menunaikan salat Jumat, Muhammad Alif melangkah perlahan keluar dari masjid. Di punggungnya tersampir tas sederhana. Di tangannya, tidak ada apa-apa selain keyakinan. Ia pamit, bukan untuk perjalanan singkat, melainkan perjalanan ribuan kilometer menuju Tanah Suci Mekkah dengan berjalan kaki.
Satu per satu jamaah menyalami Alif. Tatapan mereka menyimpan rasa kagum, haru, dan tak percaya. Sebagian terdiam, sebagian menyeka air mata. Tak sedikit yang membatin: betapa kuat tekad seorang hamba yang memilih jalan sunyi demi mendekat kepada Tuhannya.
“Langkah saya mungkin kecil, tapi niat saya besar,” ucap Alif singkat.
Niat berjalan kaki ke Mekkah bukan keputusan mendadak. Ia telah lama bersemayam di lubuk hati Alif, dipendam dalam doa-doa panjang, dipertimbangkan dengan penuh kesadaran. Bulan Rajab, menurutnya, adalah waktu yang tepat bulan yang sarat makna spiritual, bulan untuk membersihkan niat dan menguatkan tekad.
“Saya hanya ingin mencari ridho Allah,” katanya berulang-ulang, tanpa embel-embel duniawi. Tidak untuk popularitas. Tidak untuk pujian. Bahkan Alif mengaku tak ingin kisahnya dibesar-besarkan.
Ketua Masjid Mujahidin, Ir. Dalisri atau yang akrab disapa Vidal tak kuasa menahan haru. Baginya, kepergian Alif bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan iman.
“Saya benar-benar tak sanggup berkata-kata. Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Semoga Alif selalu diberi kesehatan, kekuatan, dan kemudahan hingga sampai ke Tanah Suci,” ujarnya.
Doa-doa itu mengiringi langkah Alif, menyatu dengan debu jalanan yang akan ia tapaki berbulan-bulan ke depan.
Ada satu nama yang menjadi suluh di hati Alif, Uwais Al-Qarni. Seorang sahabat Rasulullah SAW yang tak terkenal di bumi, namun harum namanya di langit. Uwais adalah sosok sederhana miskin, memiliki penyakit kulit, dan hidup hanya bersama ibunya yang tunanetra.
Namun justru dari kesederhanaan itulah kemuliaannya tumbuh. Uwais dikenal sebagai anak yang luar biasa berbakti kepada ibunya. Ketika sang ibu menginginkan berhaji, Uwais tak mengeluh meski jarak Yaman ke Mekkah terbentang ribuan kilometer dan kondisi hidup mereka serba kekurangan.
Ia melatih dirinya berbulan-bulan menggendong seekor anak lembu setiap pagi dan sore hingga tubuhnya cukup kuat untuk menggendong ibunya menuju Mekkah. Banyak orang menganggapnya gila. Banyak yang mencibir. Namun Uwais tak goyah.
Delapan bulan kemudian, ia benar-benar menggendong ibunya berjalan kaki menuju Tanah Suci, memenuhi permintaan seorang ibu dengan sepenuh jiwa.
“Uwais bukan orang besar di mata manusia, tapi sangat besar di mata Allah,” kata Alif. Kisah itulah yang meneguhkan langkahnya hari ini.
Alif sadar betul, perjalanan ini tidak mudah. Ia memperkirakan waktu tempuh antara enam bulan hingga satu tahun. Rintangan demi rintangan sudah ia perhitungkan cuaca ekstrem, kelelahan fisik, keterbatasan biaya, hingga urusan administrasi lintas negara.
Soal paspor, Alif sudah punya rencana. “Sampai Bukittinggi nanti, saya akan memperpanjang paspor,” ujarnya mantap.
Tak ada sponsor besar. Tak ada fasilitas mewah. Yang ia bawa hanyalah pakaian secukupnya, perlengkapan dasar, dan keyakinan bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan hamba yang melangkah karena-Nya.
Di tengah dunia yang serba cepat, ketika perjalanan ibadah bisa ditempuh dengan hitungan jam, Muhammad Alif justru memilih jalan panjang. Jalan sunyi. Jalan yang mungkin tak dipahami semua orang.
Namun dari langkah-langkah kecil itulah, makna besar lahir. Tentang kesabaran. Tentang kepasrahan. Tentang iman yang diuji di setiap tapak kaki.
Hari itu, Masjid Mujahidin kembali sunyi. Tapi jejak langkah Alif telah meninggalkan pesan yang dalam bahwa ibadah bukan soal seberapa cepat sampai, melainkan seberapa tulus niat yang dibawa.
Dan entah enam bulan atau setahun ke depan, ketika kaki Alif menapak Tanah Suci, dunia mungkin baru menyadari, perjalanan paling jauh sesungguhnya adalah perjalanan hati menuju ridho Allah.(almadi)
