Opini  

Jangan Panggil Saya Jek!

Oleh: Almadi

Saya punya seorang kawan. Kami memanggilnya Jek. Bukan panggilan kecil Pak Lurah Negeri Konoha, Jek ini memang asli orangnya bukan palsu.

Nama asli Jek. Banyak yang tak tahu. Maklum, pertemanan kami sebatas luar rumah, di kedai kopi, bukan kafe. Waktu itu memang belum zamannya kopi diberi nama asing dengan harga yang bikin dahi berkerut.

Hampir setiap pagi kami bersua. Rutinitasnya sama, sarapan di kedai kopi dekat Pasarraya. Pesanan juga nyaris tak pernah berubah teh telur dan kopi setengah, atau istilahnya kopi steng.

“Kopi steng ni!” teriak Jek lantang, seolah seluruh kedai perlu tahu pagi ini harus dimulai dengan setengah gula, setengah pahit.

Begitu pesanan datang, kami langsung tancap gas. Di depan mata, Pasarraya mulai hidup. Orang berlalu-lalang, ada yang tergesa ke kantor, ada pula yang sabar mengantar anak sekolah.

Kopi hitam adalah minuman favorit Jek. Aromanya kuat, masih panas, menyatu dengan sebatang rokok kretek yang kala itu tergolong mahal. Setiap kali kopi dan rokok bertemu, aura Jek terbuka. Ia selalu memulai percakapan dengan nada pelan dan sopan. Tak pernah berat, tapi selalu bermakna.

Kadang ia menyinggung politik lokal, janji gubernur, wali kota, sampai kebiasaan aparat yang main karek kayu menggusur pedagang kaki lima. Jek sering menghela napas panjang saat bicara tentang pedagang kecil yang kian susah mencari sesuap nasi.

Padahal, Jek bukan siapa-siapa bagi mereka. Tak punya kepentingan, tak pula mencari panggung. Tapi begitulah Jek sederhana, peduli, dan punya rasa kemanusiaan yang tak dibuat-buat.

 

Pekerjaannya serabutan. Tak banyak yang tahu apa sebenarnya yang ia kerjakan. Tapi setiap pagi, kehadirannya selalu dinanti. Tanpa Jek, pagi terasa pincang, seperti kopi tanpa ampas.

Bulan berganti tahun. Suatu hari, Jek menghilang. Ditelan waktu. Banyak yang bertanya-tanya, ke mana perginya sosok yang saban pagi setia dengan kopi steng itu.

Hingga suatu siang, ponsel saya berdering. Di layar tertulis satu nama lama Jek.

Saya angkat. Suaranya masih lantang.

“Apa kaba? Saya di Medan. Sudah hampir dua tahun,” katanya singkat.

Saya terkejut. Saya bertanya apa pekerjaannya di sana. Ia menjawab santai, membantu adiknya berjualan. Ketika saya tanya kapan pulang, ia terdiam sejenak.

“Mungkin tak balik lagi. Sudah ada kegiatan tetap di sini,” ujarnya.

Lalu, dengan nada setengah berbisik dan tawa kecil di ujung kalimat, ia berkata,

“Nama saya sekarang Ucok. Jangan panggil Jek lagi.”

Tahun berganti tahun, telepon dari Jek atau Ucok selalu saya nantikan. Ia bercerita tentang hidupnya di kota orang, tentang hari-hari yang dijalani apa adanya.

Penantian itu kini terjawab sudah. Jek telah berpulang ke rahmatullah.

Saya hanya terdiam. Dalam hati mengucapkan, Innalillahi wa innailaihi raji’un.

Selamat jalan, Jek. (**)