Di Balik Setir Angkot Tua, Nasir Pernah Menebas Bajing Loncat

PADANG -Muhammad Nasir lahir pada 23 Agustus 1945. Ia bukan pejuang yang namanya tercatat di buku sejarah, tapi ia adalah pejuang bagi keluarganya, bagi orang-orang yang pernah berada di bawah tanggung jawabnya.

Usia senja tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti bekerja. Demi anak dan cucu, Nasir terus menggenggam setir meski usianya kini telah melewati kepala delapan.

Angkot tua berwarna oranye itu saban hari menyusuri rute Pasar Raya-Lubuk Buaya. Mesinnya tak lagi meraung, lajunya pun tenang. Tak ada musik keras, hanya bunyi jalan dan hembusan napas seorang lelaki sepuh yang setia pada profesinya.

Tubuh Nasir tak tinggi, tapi posturnya masih tegap untuk ukuran lelaki seusianya. Tatapannya tenang. Siapa sangka, di balik wajah renta itu tersimpan kisah heroik yang pernah membuat jalan lintas Sumatera berlumur darah.

Puluhan tahun silam, tepatnya pertengahan Juli era 1980-an, Nasir yang kala muda dikenal dengan nama Agung bukan sopir angkot. Masa mudanya dihabiskan di jalan raya Padang-Jakarta, menggenggam kemudi Bus Bintang Kejora. Sumatera dan Jawa sudah ia jajaki, berbagai merek bus pernah ia taklukkan.

Ia paham betul kerasnya hidup sopir lintas pulau. Bukan hanya jalan rusak dan cuaca, tapi juga teror bajing loncat momok paling ditakuti sopir bus dan truk kala itu.

Suatu malam, saat membawa Bus Bintang Kejora dari Jakarta menuju Padang, teror itu datang. Di kawasan Lahat, Muara Enim, Sumatera Selatan, busnya dihentikan tiga orang bajing loncat bersenjata tajam.

Mereka bukan hanya merampok. Lebih kejam dari itu, para bandit itu menelanjangi penumpang perempuan. Teriakan ketakutan memenuhi bus. Harga diri diinjak-injak.

Darah Nasir mendidih. Selama ini ia sudah lebih enam kali dihadang bajing loncat. Ia memilih diam, memilih sabar. Tapi malam itu berbeda. Pelecehan terhadap perempuan tak bisa ia toleransi. Sebagai sopir, ia merasa bertanggung jawab penuh atas keselamatan penumpangnya.

Dalam benaknya terlintas kampung halaman Taram, Payakumbuh. Ilmu silat warisan nenek moyang yang ia pelajari sebelum merantau. Ilmu kanuragan lengkap dengan kebatinan, diturunkan oleh para guru yang seluruhnya perempuan.

“Saya punya enam guru, semuanya perempuan. Kata orang tua, kalau laki-laki berguru pada perempuan, ilmunya cepat naik,” kenangnya.

Ilmu itulah yang selama ini menjadi bekal hidupnya di rantau. Ketika semua penumpang perempuan telah ditelanjangi dan terduduk ketakutan, Nasir bangkit. Tanpa banyak bicara, ia meraih pedang tajam yang disimpannya di belakang kursi sopir.

Ia melompat. Tebasan pertama menghantam tangan dan perut salah seorang bajing loncat yang tengah tertawa puas. Darah muncrat. Tapi Nasir lengah. Dua bandit lain sudah berada di belakangnya.

Salah satunya menebas tangan kanan Nasir. Dengan keyakinan penuh bahkan kesombongan ia menangkap pedang itu dengan tangan kosong. “Waktu di perguruan, saya bisa memelintir pedang jadi seperti baut,” ucapnya.

Namun malam itu, ilmunya tak mempan. Darah mengalir deras dari jemarinya. Kesombongan menjadi bumerang. Nasir tersentak sadar ia telah melanggar pantangan.

Serangan bertubi-tubi membuatnya terdesak. Punggungnya terbelah. Tangan kanannya nyaris putus disabet senjata tajam.

Di saat nyawa berada di ujung tanduk, pertolongan datang. Seorang sahabatnya, sopir Bus NPM, menyerbu dan menusuk salah satu bajing loncat. Sopir-sopir lain menyusul. Dua bandit yang kabur ke kebun karet dikejar dan ditikam di sana.

Tiga bajing loncat itu tewas. Polisi membawa jasad mereka ke rumah sakit setempat. Nasir selamat meski luka fisik dan batin ia bawa seumur hidup.

Rupanya Nasir bukan orang sembarangan. Darah pandeka mengalir dalam dirinya. Kakeknya, Jaruim, adalah pandeka tersohor dan sahabat dekat Pahlawan Nasional Tan Malaka. Jaruim wafat pada usia 126 tahun sebuah usia yang seakan menegaskan kerasnya tempaan hidup keluarga ini.

Kini, puluhan tahun berlalu. Nasir kembali ke jalan, bukan dengan bus besar atau pedang, tapi dengan angkot tua dan kesabaran. Setiap tarikan gasnya adalah perjuangan. Setiap kilometer adalah bukti bahwa keberanian tak selalu hadir dalam seragam atau monumen. (almadi)