Indeks
Daerah  

PTSP Menjaga Orisinalitas PLTA Rasak Bungo Sebagai yang Tertua di Indonesia

 

 

plta

 

PADANG – Kiprah tim inovasi STORE1908 dalam menjaga kelangsungan aset perusahaan PT Semen Padang berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rasak Bungo yang berada di Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, patut diacungi jempol.

Di tengah kemajuan teknologi saat ini, tim inovasi dari Unit Heat Recovery Power Generation (WHRPG) & Utilitas PT Semen Padang itu, terus berupaya untuk mempertahankan orisinalitas peralatan PLTA Rasak Bungo yang sudah berusia 113 tahun.

“PLTA Rasak Bungo ini didirikan Belanda pada 1908 dan beroperasi pada tahun 1909. PLTA Rasak Bungo menjadi salah satu fasilitas penting dalam mendukung kelahiran pabrik PT Semen Padang yang dulu bernama dulu bernama NV Padang Portland Cement Maatschappij (PPCM), pada 1910,,” kata Kepala Unit Humas & Kesekretariatan PT Semen Padang Nur Anita Rahmawati, Kamis (8/4/2021).

Pada ajang Semen Padang Improvement Event (SPIE) tahun 2019-2020, tim STORE1908 itu ikut berkontribusi dalam ajang inovasi tahunan yang rutin digelar perusahaan. Pada ajang tersebut, tim STORE1908 meraih juara II untuk kategori Gugus Kendali Mutu.

“Inovasi dari tim STORE1908 ini adalah tentang memperbaiki kerusakan Circuit Breaker (CB) Sinkron 3kV di PLTA Rasak Bungo. Analisa benefit dari inovasi tim STORE1908 itu mencapai Rp442 juta lebih,” ujar Nur Anita.

Kepala Unit WHRPG & Utilitas PT Semen Padang Erick Reza Alandri menambahkan bahwa tim inovasi STORE1908 ini dibentuk seiring adanya ajang SPIE tahun 2019-2020. Unit WHRPG & Utilitas, katanya, ingin berkontribusi pada ajang tahunan tersebut dan berhasil meraih juara II.

Tim STORE1908 ini, sebut Erick, terdiri dari tujuh orang. Mereka adalah Prinaldi sebagai ketua, Rizky DE sebagai sekretaris, dan anggotanya terdiri dari Rudi, Mick D, Ruki TJ dan Imran. “Sedangkan saya sendiri, sebagai fasilitator dari tim STORE1908,” kata Erick.

Pada ajang SPIE kemarin, tim STORE1908 menjadikan PLTA Rasak Bungo sebagai objek inovasi dengan judul “Melakukan Restorasi untuk mempertahankan Orisinilitas CB Sinkron 3kV Siemens Schuckert Tahun Operasi 1908 dengan Memodifikasi Material ex-CB Trafo Acc di PLTA Rasak Bungo”.

Judul inovasi itu dikemukan pada ajang SPIE, karena dari hasil inveksi ke PLTA Rasak Bungo, ditemukan kerusakan di CB yang merupakan komponen busbar dan kukuh yang menjadi media kontak untuk mengalirnya arus listrik dari generator menuju line transmisi udara 3kV,. Kerusakan tersebut berdampak kepada produksi energi listrik PLTA Rasak Bunga menjadi 0 kWH, karena kualitas material CB Sinkron 3kV yang rusak itu memiliki nilai hambatan jenis tinggi (Rho) yaitu 0,08.

Selain itu, tim STORE1908 juga menemukan CB Sinkron 3kV tidak mengontak secara sempurna saat posisi closed, dengan nilai tahanan kontak >100 Nanoohm (nΩ). Karena permasalahan tersebut, tim inovasi kemudian memodifikasi material CB Trafo Accessories PLTD 1 yang tidak terpakai untuk dimanfaatkan di PLTA Rasak Bungo.

“Jadi, modifikasi dari CB di PLTD 1 itulah yang menjadi salah satu potensi benefit, karena kalau CB dibeli baru, harganya mencapai lebih dari Rp299 juta, belum lagi waktu pengadaannya yang mencapai lebih kurang 10 bulan lamanya.

Sedangkan untuk modivikasi CB bekas yang tidak terpakai di PLTD I itu, hanya membutuhkan waktu 1 minggu lamanya,” kata Erick.

Hal yang sama juga disampaikan anggota tim STORE1908 Ruki TJ. Kata dia, jika dilakukan pengadaan pembelian CB baru, tentu orisinalitas dari PLTA Rasak Bungo menjadi berkurang, karena CB baru itu berbeda dengan CB yang terpasang sejak PLTA Rasak Bungo didirikan 113 tahun silam.

“CB baru itu bentuknya beda dan CB lama itu gak ada lagi yang jual atau diproduksi,” katanya. Bagi tim STORE1908, inovasi terhadap komponen yang ada di PLTA Rasak Bungo dengan melakukan restorasi untuk mempertahankan orisinalitas peralatan yang sudah berumur 113 tahun, tentunya begitu membanggakan sekali, apalagi setelah CB Sinkron 3kV tersebut dimodivikasi, kinerja PLTA Rasak Bungo semakin meningkat dari sebelumnya.

“Energi yang dihasilkan PLTA Rasak Bungo ini pada umumnya untuk menerangi rumah dinas karyawan dan juga untuk menunjang program CSR perusahaan di bidang effisiensi energi berbasis pemberdayaan, seperti menerangi fasilitas umum yang ada di Indarung dan Batu Gadang, seperti masjid, musala, pos pemuda dan lain sebagainya,” ujar Ruki.

Ia pun juga membeberkan soal nama tim STORE1908. Kata dia, STORE artinya toko, sedangkan 1908 adalah tahun berdirinya PLTA Rasak Bungo.

Karena mesin dan komponen untuk PLTA Rasak Bungo yang orisinil tidak ada lagi yang jual, makanya Unit WHRPG & Untilitas membuat tim STORE1908. “Tim ini ibaratnya menjadi toko untuk kebutuhan PLTA Rasak Bungo,” katanya berseloroh. PLTA Rasak Bungo merupakan tertua di Indonesia, lebih tua dari PLTA Tonsealama di Minahasa yang dibangun 1912 dan mulai dioperasikan tahun 1923.

Sedangkan PLTA Rasak Bungo, usianya mengalahkan usia Semen Padang sudah 111 tahun, karena sebelum pabrik pertama di Indonesia dan Asia Tenggara itu didirikan, Belanda lebih dulu membangun PLTA Rasak Bungo yang sumber energinya untuk mendirikan pabrik, sekaligus untuk operasional pabrik Indarung I PT Semen Padang ketika itu.

PLTA Rasak Bungo dibangun di atas tanah seluas lebih kurang 1 Hektare. PLTA ini memiliki dua turbin dengan total listrik yang dihasilkan setiap harinya, mencapai 700 KW. Sejak dibangun, hingga sekarang, turbinnya belum pernah diganti.

Pada turbin itu, terdapat bahasa Belanda yang tertulis ‘Amme, glesecke & konegen. A.G. Braungschweig. Bangunan penunjang PLTA Rasak Bungo terdiri dari ruang operator, gudang, ruang turbin seluas lebih kurang 12×15 meter persegi, dan ruang Buspar yang merupakan tempat alat pemutus dan penghubung arus atau yang disebut dengan MCB (Miniature Circuit Breaker). (almadi)

 

Exit mobile version