Jakarta Utara – Gerakan Utara Bersatu menyampaikan keprihatinan sekaligus kemarahan atas meninggalnya aktivis buruh Ermanto Usman, yang selama ini dikenal vokal menyuarakan berbagai persoalan buruh dan dugaan penyimpangan kebijakan di lingkungan pelabuhan, khususnya di Jakarta International Container Terminal (JICT).
Kematian Ermanto Usman menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat.
Sosok yang selama ini berani bersuara membela hak-hak buruh dan mengkritisi berbagai kebijakan yang dinilai tidak sesuai prosedur, kini justru berakhir tragis. Kondisi ini memunculkan kecurigaan publik bahwa ada pihak-pihak yang merasa terganggu dengan keberanian korban dalam mengungkap berbagai persoalan di lingkungan pelabuhan.
Koordinator Lapangan Gerakan Utara Bersatu, Juharto, menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti hanya sebagai peristiwa kriminal biasa. Ia meminta aparat penegak hukum mengusut secara tuntas dan transparan setiap kemungkinan yang melatarbelakangi kematian aktivis buruh tersebut.
“Ketika seseorang yang selama ini vokal mengkritik sistem tiba-tiba meninggal secara tragis, tentu publik berhak bertanya. Jangan sampai keberanian menyuarakan kebenaran justru dibalas dengan ancaman terhadap nyawa,” tegas Juharto.
Selain menyoroti kematian aktivis buruh tersebut, Gerakan Utara Bersatu juga menyoroti persoalan kronis yang selama ini menghantui masyarakat Jakarta Utara, yakni kemacetan parah dan rentetan kecelakaan yang melibatkan truk kontainer dari aktivitas pelabuhan.
Setiap hari ribuan truk kontainer melintas di jalan-jalan utama Jakarta Utara, menyebabkan kemacetan panjang serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas. Tidak sedikit warga yang menjadi korban, bahkan kehilangan nyawa akibat terlindas truk kontainer. Kondisi ini dinilai tidak boleh lagi dianggap sebagai hal yang biasa karena menyangkut keselamatan masyarakat.
Selain itu, Gerakan Utara Bersatu juga menyoroti kerja sama pengelolaan Jakarta International Container Terminal yang melibatkan perusahaan asal Hong Kong, Hutchison Port Holdings. Kerja sama tersebut sebelumnya memicu kontroversi terkait perpanjangan kontrak serta kekhawatiran adanya dominasi kepentingan asing dalam pengelolaan pelabuhan strategis nasional.
Sebagai bentuk sikap dan kepedulian terhadap berbagai persoalan tersebut, Gerakan Utara Bersatu bersama elemen masyarakat akan menggelar aksi damai dalam waktu dekat.
Aksi ini akan menjadi bentuk protes moral sekaligus tuntutan publik agar berbagai persoalan yang selama ini terjadi tidak lagi diabaikan.
Aksi damai tersebut akan membawa beberapa tuntutan utama, antara lain:
Mendesak pengusutan secara transparan dan menyeluruh atas kematian aktivis buruh Ermanto Usman.
Menuntut tanggung jawab atas kemacetan kronis yang terjadi akibat aktivitas truk kontainer di Jakarta Utara.
Mendesak perlindungan nyata terhadap keselamatan masyarakat yang setiap hari terancam oleh lalu lintas truk kontainer.
Mendorong evaluasi terhadap kerja sama pengelolaan pelabuhan yang melibatkan pihak asing.
Gerakan Utara Bersatu menegaskan bahwa suara masyarakat tidak boleh dibungkam dan keselamatan warga tidak boleh terus diabaikan.
Pelabuhan seharusnya menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat sekitar, bukan justru menghadirkan kemacetan, ketakutan, dan korban jiwa.
“Kami tidak akan diam. Ketika aktivis meninggal dan masyarakat terus menjadi korban, maka sudah saatnya publik bersuara. Aksi damai ini adalah bentuk kepedulian sekaligus peringatan bahwa keadilan dan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas,” tegas Juharto. (Agusmardi)
