Indeks
Ekobis  

GALLERY BALANJO, JALAN PEMUDA Surga Belanja Baru Persembahan Semen Padang

Sebuah galeri surga belanja bagi wisatawan, baru saja diresmikan di Kota Padang. Galeri ini diberinama Gallery Balanjo, berada di Jalan Pemuda. Galari yang lahir untuk mendukung Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sumbar ini, diprakarsai PT Semen Padang, melalui program corporate social responsibility (CSR).

Saat ini dunia pariwisata Sumbar mumumnya dan Kota Padang khusnya bak sayur tanpa garam. Sebab orang yang datang berwisata ke Kota Padang, masih merasa ada sesuatu yang kurang, karena di kota ini belum ada sentra oleh-oleh yang terpusat. Kalau pun ada sentra oleh-oleh khas kota ini, tempatnya pun terpencar.

Persoalan ini ternyata menjadi perhatian PT Semen Padang (PT SP). Guna mendukung Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sumbar, manajemen perusahaan ini mendirikan Gallery Balanjo oleh-oleh khas Sumbar, melalui program corporate social responsibility (CSR).

Dengan Gallery Balanjo ini manajemen PT SP mengharapkan ke depan produk UMKM punya pasar pasti terhadap produk yang dihasilkannya.

“Kita punya program corporate social responsibility dengan nama paduli nagari, ini salah satu implementasi pilarnya.  Selain membantu permodalan, kita bantu pemasarannya,” sebut Direktur Keuangan PT Semen Padang, Tri Hartono Rianto pada peresmian Gallery Balanjo oleh-oleh khas Sumbar, Minggu (24/9), di Jalan Pemuda, Padang.

Tri Hartono menyebutkan, gallery ini didirikan menggunakan aset PT Semen Padang di Jalan Pemuda, depan Plaza Andalas Padang. Pengelolaannya menggunakan sistem konsinyasi antara UMKM mitra binaan PT Semen Padang.

“Sistemnya, UMKM akan menempatkan produknya di galerry, kemudian barang dibayar setelah pasokan kedua masuk, begitu selanjutnya,” terang Tri Hartono Rianto.

Tri Hartono mengatakan, target yang ingin dicapai perusahaan itu adalah, bagaimana UMKM yang sudah dibina perusahaan itu tetap eksis, tidak terkendala dengan pasarnya.

“Hadirnya galerry tersebut diharapkan mendapatkan manfaat timbal balik. Bagi UMKM sebagai sarana penjualan yang efektif, karena lokasi galeri yang strategis. Kemudian, dikelola oleh PT Semen Padang sekaligus sebagai BUMN pembina yang telah mempunyai jaringan secara nasional,” ujarnya.

Dikatakan, model usahanya, gallery dikelola oleh Koperasi Pensiuan Semen Padang (Kopensepa). Kopensepa telah berpengalaman dalam mengelola usaha, selain itu mempunyai program yang juga untuk pengembangan UMKM. Dengan menggunakan sistem konsinyasi, pembayaran dilakukan sesuai dengan jumlah produk yang berhasil dijual.

“Saat ini baru satu gallery. Jika langkah awal ini sukses, maka akan dikembangkan dengan galerry berikutnya di lokasi lain,” tambahnya.

Tri Hartono menyebutkan, saat ini gallery tersebut sudah menampung 30 UKM. Dengan bertambahnya galery, juga akan menambah banyak UKM yang tertampung. Target pasar, selain konsumen lainnya, PT Semen Padang selaku pembina juga sekaligus menjadi pelanggan dan pasar potensial gallery.

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementrian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, langkah Semen Padang mendirikan Galerry Balanjo sudah menjalakan fungsi BUMN hadir untuk negeri. Benar-benar berbuat untuk masyarakat.

“Ini nyata dapat meningkatkan pemasaran hasil usaha UMKM, ini perlu ditingkatkan. Jangan hanya 30, kasihan yang lain,”sebutnya.

Hal yang sama disampaikan Gubernur Irwan Prayitno, kebijakan PT Semen Padang dalam menyediakan wadah pemasaran bagi UMKM benar-benar membantu masyarakat. Sehingga masyarakat tidak kesulitan lagi dalam memasarkan produknya.

“Kita sangat berterimakasih dengan perhatian Semen Padang, kita sangat dukung. Kita harapan jumlah makin banyak, tidak hanya di Kota Padang,”sebutnya.

Sementara itu salah seorang pemerhati pariwisata Venny RSW merespon positif langkah yang dilakukan manajemen PT Semen Padang tersebut. Menurut dia, galeri yang resmi dibuka beberapa hari lalu itu, diharap akan dapat menjawab kebutuhan wisatawan akan suvenir.

“Diakui atau tidak, selama ini wisatawan yang datang ke Kota Padang harus mendapatkan berbagai oleh-oleh berbeda dari berbagai tempat. Ini tentu merepotkan. Namun sekarang, berkat PT Semen Padang, wisatawan tinggal datang ke Galeri Balanjo, Jalan Pemuda. Tentu ini akan membuat wisatawan lebih aman dan nyaman,” ujar ibu satu anak asal daerah wisata Danau Toba Sumatera Utara ini.

Suami dari salah seorang artaan di Sumbar ini mengatakan, Paririsata Sumbar umumnya dan Kota Padang khususnya tengah berkembang. Jadi, pertumbuhan tersebut sangat perlu didukung dengan tempat oleh-oleh yang lengkap. “Jadi, saya rasa kehadiran Galeri Balanjo ini sudah sangat tepat,” ujarnya.

Venny berharap, Galeri Balanjo ini juga dimanfaatkan sebagai sarana menawarkan berbagai kerajinan khas Minangkabau atau Sumatera Barat hingga makanan khas dengan harga variatif, dimulai dari belasan rupiah higga ratusan ribu rupiah.

PELAKU UKM TERBANTU

Diakui atau tidak, sebenarnya peluang Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk tumbuh besar dan berkembangan terbuka lebar, namun tidak jarang pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) masih berhadapan dengan persoalan klasik, yaitu modal pengembangan usaha dan persoalan pemasaran.

Namun kini, kata salah seorang pengamat wisata dan pelaku usaha, H Hendri Hariandy, dengan hadirnya Gallery Balanjo oleh-oleh khas Sumbar, yang diprakarsai PT Semen Padang, melalui program corporate social responsibility (CSR), akan menjawab persoalan pemasaran yang selama ini sering dihadapi pelaku UKM tersebut.

Tak hanya itu, kaya Hendri, PT Semen Padang tidak hanya membantu dalam soal pemasaran, sebelumnya perusahaan ini telah terbukti ikut membantu permodalan ratusan UKM yang ada di Sumbar.

“Selain persoalan pemasaran, selama ini pelaku UKM juga sering dihadapkan pada persoalan modal pengembangan usaha. Namun, persoalan itu cukup menjadi perhatian manajemen PT SP, buktinya banyak UKM binaanya yang berkembang,” kata Hendri.

Hendri juga menilai selama ini bahwa selama ini UKM memang terkesan lemah dalam urusan manajemen. Akibatnya, perbankan kerepotan untuk mengidentifikasi mana UKM yang potensial dan mana yang tidak. Sementara itu, pelaku UKM pun merasa kesulitan untuk “menikmati” jasa perbankan.

Padahal, kata Hendri Hariandy, di negara maju sudah banyak sistim layanan yang tersedia bagi UKM, terutama dalam mengakses dana masyarakat secara langsung. Katanya, di negara-negara maju UKM bisa memperoleh dana penyertaan langsung, baik dari individu maupun lembaga, untuk memulai usaha baru atau yang sudah berjalan.

Kata Hendri lebih lanjut, hal semacam itu belum populer di Indonesia! Masyarakat di negara ini hanya tahu bahwa modal usaha itu hanyalah uang sendiri atau kredit bank. (Almadi)

Exit mobile version