PADANG—Di balik gemerlap keberhasilan atlet Sumatera Barat yang sukses meraih medali emas pada PON Beladiri di Kudus, ternyata ada kisah yang luput dari sorotan. Sosok pelatih yang menjadi arsitek di balik layar kesuksesan atlet seolah terpinggirkan.
Padahal, tanpa tangan dingin dan dedikasi pelatih, mustahil seorang atlet bisa berdiri di podium tertinggi. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Saat pemberian bonus di Istana Gubernur Sumbar, hanya atlet yang dipanggil ke depan, sementara pelatih yang tiap hari bercucuran keringat di arena latihan, hanya bisa menyaksikan dari kejauhan.
“Ini perlu saya koreksi, peranan pelatih sangat penting untuk menciptakan atlet berprestasi tinggi,” tegas Rahmat Watira, Jumat (7/11/2025) manajer cabang olahraga Sambo PON Beladiri Kudus, dengan nada kecewa.
Rahmat menilai penghargaan yang diberikan kepada atlet memang layak, namun alangkah bijaknya jika pelatih juga diberi apresiasi setimpal. “Pelatih itu ibarat orang tua kedua bagi atlet. Mereka meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu dan tenaga, demi melihat anak latihnya naik podium. Tapi ketika tiba saatnya penghargaan, mereka justru dilupakan,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Kabid Binpres KONI Sumbar, Hendy Luthan, yang menegaskan bahwa peran pelatih tidak bisa dipandang sebelah mata.
“Pelatih memang tidak bisa langsung memenangkan pertandingan, tapi tanpa pelatih, kemenangan itu tidak akan pernah ada,” ujar mantan pelatih karate Sumbar yang sukses mempersembahkan medali emas di ajang PON Sumsel.
Hendy menyebut, penghargaan terhadap pelatih seharusnya sebanding dengan hasil yang diraih atlet binaannya. “Kalau atlet sukses, sejahterakan juga pelatihnya. Jangan biarkan mereka hanya jadi penonton di balik sorotan lampu keberhasilan,” ucapnya.
Ia menambahkan, beban pelatih jauh lebih berat dari yang terlihat. “Bayangkan, mereka lebih banyak bersama atlet dibanding anak sendiri. Itu jeritan hati nurani para pelatih yang selama ini terabaikan,” katanya lirih.
Menurutnya, kondisi pelatih daerah berbeda jauh dengan pelatih profesional yang digaji sesuai kontrak dan standar kompetisi nasional. “Kalau di tingkat daerah, pelatih masih banyak yang kerja dengan semangat pengabdian. Maka sudah selayaknya pemerintah dan KONI memberi perhatian lebih,” tutupnya. (almadi)
