Indeks
Opini  

Kasus Kehamilan Remaja di Padang Pariaman Bentuk Eksploitasi dan Manipulasi Psikologis

Wawancara Terkait Kasus Kehamilan Remaja di Padang Pariaman Melalui Media

  1. Bagaimana tanggapan bapak dengan berita viral terkait siswi SMP di Padang Pariaman yang hamil dengan orang yang baru ia kenal di medsos ?

Respon :

Menurut saya, kasus ini merupakan bentuk eksploitasi dan manipulasi psikologis terhadap anak di bawah umur, yang terjadi melalui media sosial. Dalam perspektif psikologi forensik, relasi antara anak usia SMP, dengan orang dewasa yang baru dikenal di media sosial, hampir selalu menunjukkan ketimpangan kuasa (power imbalance).

Remaja 16 tahun, belum memiliki kematangan kognitif, dan emosional untuk : membaca intensi manipulatif, mengidentifikasi grooming, mengantisipasi konsekuensi jangka panjang.

Kasus ini harus dilihat sebagai kegaglan sistem proteksi sosial dan digital, bukan sekedar kesalahan individu korban.

 

  1. Kasus ini berawal dari medsos, apa yang membuat remaja perempuan usia SMP begitu rentan terhadap manipulasi oleh orang asing di media sosial ?

Respon :

Secara psikologis, ada beberapa faktor :

  1. Perkembangan otak

Prefrontal cortex (pusat pengambilan keputusan dan kontrol impuls) belum matang sepenuhnya hingga usia 25 tahun.

  1. Kebutuhan afeksi dan validasi

Remaja sangat membutuhkan : pengakuan, penerimaan, pehatian emosional.

Perilaku biasanya memanfaatkan celah ini melalui Teknik grooming: memberi perhatian intens, validasi emosional, mebangun ketergantungan, mengisolasi korban dari lingkungan.

  1. Literasi digital rendah

Remaja sering : tidak memahami risiko privasi, tidak mampu membedakan manipulasi dan perhatian tulus.

 

  1. Faktor keluarga

Kurangnya komunikasi terbuka di rumah meningkatkan risiko anak mencari validasi validasi di luar.

 

  1. Bentuk pendampingan psikologis mendesak apa yang perlu diberikan untuk menstabilkan emosi korban yang baru berusia 16 tahun dan hamil 5 bulan ?

Respon :

Fokus awal adalah stabilisasi emosi dan pencegahan trauma kompleks.

Intervensi krisis yang perlu dilakukan :

  1. Psychological First Aid (PFA) antara lain memberikan rasa aman, mengurangi kecemasan akut, menghindari interogasi berlebihan.
  2. Assessment risiko antara lain skrining depresi, skrining ide bunuh diri, skrining PTSD.
  3. Regulasi emosi antara lain latihan grounding, Teknik pernafasan, psychoeducation tentang reaksi trauma
  4. Pendampingan multidisiplin antara lain oleh psikolog klinis, dokter kandungan, pekerja sosial, apparat hukum (ramah anak)

Target utama: korban merasa aman, tidak disalahkan, dan emosinya stabil.

  1. Bagaimana pendekatan untuk mempersiapkan mental korban menghadapi kehamilan dan persalinan di usia dini ?

Respon :

Pendekatan yang dilakukan bertahap:

  1. Membantu korban menerima kondisi tanpa rasa bersalah berlebihan
  2. Psychoeducation kehamilan : perubahan fisik dan hormonal, proses persalinan, perawatan bayi.
  3. Penguatan diri : remaja sering merasa “hidup saya hancur”, “saya tidak punya masa depan” maka Psikolog perlu menanamkan : kehamilan bukan akhir kehidupan, masa depan tetap bisa dibangun.
  4. Kesiapan emosional, dukungan keluarga, rencana Pendidikan lanjutan (parenting readiness training/jika bayi akan diasuh)

 

  1. Bagaimana peran psikolog yang bisa diberikan kepada orang tua dalam mengawasi penggunaan media sosial anak tanpa terkesan mengekang ?

Respon :

Dalam konteks forensic :

  1. Proses hukum tidak boleh menjadi retraumatisasi
  2. Pendampingan saat BAP (memastikan korban tidak ditekan, Bahasa yang digunakan ramah anak, menghindari pertanyaan menyudutkan)
  3. Terapi trauma. Tujuan mengembalikan rasa kontrol atas hidupnya.

 

  1. Saran psikologis apa yang bisa diberikan kepada orang tua dalam mengawasi penggunaan media sosial anak tanpa terkesan mengekang ?

Respon :

Pendekatan terbaik adalah kontrol berbasis relasi, bukan kontrol berbasis otoritas.

  1. Bangun komunikasi terbuka
  2. Jajngan hanya melarang, tapi jelaskan risiko
  3. Jadikan rumah tempat paling aman untuk cerita

Praktisnya: diskusi rutin tentang pengalaman online, buat aturan bersama (bukan sepihak), edukasi tentang grooming dan manipulasi, orang tua melek digital

Anak yang merasa diterima di rumah akan : lebih kecil kemungkinannya mencari validasi berisiko di luar.

  1. Bagaimana sikap lingkuungan (warga/sekolah) yang seharusnya diberikan kepada korban agar ia tidak merasa dikucilkan dan tetap bersemangat melanjutkan hidup ?

Respon :

Lingkungan berperan besar dalam mencegah trauma sekunder.

Sekolah : tidak mengucilkan, tidak memaksa drop out, memberikan opsi pendidikan alternatif, pendampingan BK intensif.

Warga : menghindari stigma, tidak menyebarkan gossip, tidak menyalahkan korban

Yang harus diingat: stigma sosial seringkali lebih melukai daripada peristiwa awalnya.

 

  1. Harapan bapak terkait kasus ini ?

Respon :

Harapan saya terkait kasus ini:

  1. Proses hukum berjalan adil dan berpihak pada perlindungan anak
  2. Korban mendapatkan pendampingan psikologis jangka Panjang
  3. Edukasi literasi difital diperkuat di sekolah
  4. Orang tua diberdayakan untuk membangun komunikasi yang sehat
  5. Media tidak mengeksploitasi identitas korban

Kasus ini harus menjadi momentum untuk : memperkuat sistem perlindungan anak

Dalam setiap kasus seperti ini, yang paling pentung adalah satu prinsip :

“Anak yang menjadi korban tidak pernah menjadi pelaku atas penderitaannya.”

Tugas kita sebagai professional, keluarga, dan masyarakat adalah memastikan anak tersebut tetap memiliki rasa aman, harga diri, harapan masa depan. (Bayu Prasetya Yudha, S.Psi., MM., M.Psi., Psikolog)

Exit mobile version