Agar Sungai Beringin Tak “Mengganas” Lagi, Warga Pinta Buka Kembali Aliran Sungai ke Gurun Kudu

 Sumbar

IMG-20181105-WA0026

IMG-20181105-WA0020

PADANG -Di balik ambruknya proyek jembatan yang menghubungkan Baringin-Koto Lalang Jumat (2/11/2018), ternyata ada fakta baru yang berkaitan dengan Daerah Aliran Sungai Baringin.

Faktanya adalah, Sungai Baringin ini memiliki dua cabang yakni, satu ke arah Kelurahan Tarantang, dan satu lagi ke arah Gurun Kudu, Koto Lalang. Namun aliran ke arah Gurun Kudu ini, ditutup sejak awal 2000-an.

“Aliran Sungai ke Gurun Kudu, Koto Lalang ini sudah lama ditutup yakni sekitar awal 2000-an. Penutupan itu dilakukan saat itu pasca proyek irigasi Kapalo Banda Tarantang, aliran dari Sungai Beringin debitnya terlalu sedikit. Karena itu, agar airnya lebih tinggi maka, aliran ke Sungai ke Kudu ditutup,” ungkap warga RT 01 RW 01 Kelurahan Beringin, Kecamatan Lubuk Kilangan Padang, Lamsuit (62), Senin (5/11/2018).

Setiap terjadi banjir, kata dia, kepada para pejabat yang berkunjung selalu diminta warga untuk kembali menghidupkan aliran Sungai ke Gurun Kudu.

“Kalau aliran ini tidak dihidupakan, nagari ini akan hancur dihantam banjir bandang bila curah hujan tinggi,” kata pria itu menirukan permohonan warga RT 01 kepada para pejabat Pemda.

Lamsuit mengakui, sebagian warga memang akan tidak menyetujui kalau aliran Sungai ke Kudu itu dihidupkan kembali. Karena ada yang sudah menjadikan aliran sungai itu sebagai lahan pertanian. Namun itu menurutnya tergantung kepada pemerintah.

“Kalau saya pribadi setuju aliran ini dihidupkan kembali, karena dari ninik moyang kami sungai ini sudah mengalir,” kata pria tua yang ditemui di ladangnya, di tepi Sungai Beringin.

Senada dengan Lamsuit, salah seorang petani Kudu, Syaiful One juga berharap agar aliran sungai ke Gurun Kudu itu dibuka kembali, agar jika terjadi hujan lebat, debit air di Sungai Baringin tidak lagi meluap seperti yang terjadi pada Jumat lalu.

Di samping, itu masyarakat di Gurun Kudu ataupun di Pulau Jawi-jawi yang berada di sebelah Gurun Kudu, khususnya petani, juga bisa mendapatkan aliran air yang lebih banyak, untuk menggarap lahan sawah.

“Saat ini sungai itu dapat dikatakan sudah mati. Bahkan ada petani yang tak bisa lagi menggarap sawah, sehingga juga ada beberapa sawah yang menjadi lahan tidur yang tidak bisa dimanfaatkan, karena tidak ada air,” katanya.

Dari penelusuran wartawan media ini, aliran sungai ke Gurun Kudu yang ditutup berada sekitar 400 meter sebelum proyek jembatan Beringin yang diterjang banjir. Aliran sungai ke Kudu yang ditutup itu memiliki lebar sekitar 15-20 meter. Sebagian badan sungai sudah dimanfaatkan masyarakat untuk areal pertanian.

Seperti diketahui, pada Jumat (2/11/2018) curah hujan yang tinggi telah mengakibatkan banjir di sejumlah titik di Kota Padang. Di kawasan Beringin, banjir menghancurkan proyek jembatan senilai Rp 8 miliar lebih yang tengah dibangun, dan satu jembatan gantung senilai Rp400 juta. (*)

banner 468x60

Related Posts